Thursday, December 26, 2013

Hakikat Bismillah ( Tasawuf )


                         Hakikat Bismillah ( Tasawuf )

Assalamualaikum warohmatullah hiwabarokatuh, kepada pembaca yang budiman, sebelum membaca artikel ini elok ana berpesan dahulu, mungkin artikel ini akan mengelirukan anda semua kerana ianya memerlukan pemahaman yang tinggi dan pemikiran yang tajam. Artikel ini asalnya dalam bahasa indonesia, jadi ana terjemahkan dalam bahasa Melayu, maaf jika ada yang tersalah alih bahasa atau ada yang ana tertinggal atau ada yang ana sendiri tau tau nak terjemahkan dalam melayunya bagaimana, harap maklum...

Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur'an. Dan seluruh kandungan Al-Qur'an ada di dalam Al-Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Bismillnahirrahmaanirrahiim. Bahkan disebutkan dalam hadits lain,"setiap kandungan yang ada dalam Bismillahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf Baa', dan setiap yang terkandung di dalam Baa’ ada di dalam titik yang berada dibawah Baa'".

Sebagian para Arifin menegaskan, "Dalam perspektif orang yang ma'rifat kepada Allah, Bismillaahirrahmaanirrahim itu kedudukannya sama dengan "kun" dari Allah”.

Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillahirrahmaanirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur'an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-huruf yang ada dalam huruf Baa', manfaat dan rahsianya.

Tujuan kami bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkait antara satu sama lainnya, kerana seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.

Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa' adalah awal mula setiap surah dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun dari titik, dan sudah semestinya setiap surah ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Kerana itu menjadikan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surah iaitu Kitab Allah Ta’ala.

Kerangka hubungan antara huruf Baa' dengan Tititknya secara komprehensfih akan dijelaskan berikut nanti. Bahwa Baa' dalam setiap surah itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Bassmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa' itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Kerana itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur'an mesti diawali dengan Baa' sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur'an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa', akhirnya pada titik.

Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa' ( ت ) dengan dua titik, lalu anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’( ث ), maka yang anda baca tidak lain kecuali titik itu sendiri. Sebab Taa'( ت ) bertitik dua, dan Tsaa' ( ث )bertitik tiga tidak terbaca,kerana bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeza dengan lainnya. Kerana itu dengan titik itulah masing-masing dibezakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenali kecuali Allah.

Bahwa anda mengenal-Nya dari makhluk, sesungguhnya anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada titik tersebut. Ada sebagian yang nampak pada kenyataannya seperti huruf Alif ( أ ) dan huruf-huruf tanpa Titik. Kerana huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif ( أ ) lebih mulia dibanding Baa' ( ب ),kerana titiknya itu menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa' ( ب ) itu sendiri tidak nampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa' ( ب ) tidak akan nampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Kerana titik sesuatu huruf merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara itu penyatuan antara faktor lain ialah faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.

Huruf Alif ( أ ) itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda boleh mengatakan bahwa Baa' ( ب ) itu adalah Alif ( أ ) yang di datarkan seperti Jiim ( ج ), misalnya, adalah Alif ( أ ) dibengkokkan' dua hujungnya. Daal ( د ) adalah Alif ( أ ) yang ditokok ditengahnya.

Sedangkan Alif ( أ ) dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat masing-masing huruf tersusun dari titik. Sementara titik bagi setiap huruf ibarat nukleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif ( أ ) dengan kerangkanya seperti kedudukan titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif ( أ ) sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’( ب ) adalah Alif ( أ ) yang terdatarkan.

Demikian pula hakikat Nabi Muhammad saw merupakan inti dimana seluruh alam semesta ini diciptakan dari hakikat Muhuhammad saw itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang menyebutkan Allah swt menciptakan ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah sifat zahirnya Allah dalam makhluk melalui nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah. ( *perlu jelas di sini, bukan maksud Nabi Muhammad itu dari segi zahir bagi Allah ataupun jelmaan dari Allah )

Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra'kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif ( أ ), walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif ( أ ) merupakan manifestasi titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya Alif ( أ ) memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah titik tidak lain kecuali berada satu darjat. Kerana dua titik disusun dua bentuk alif, maka Alif ( أ ) menjadi sesuatu yang memanjang. Kerana dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.

Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif ( أ ),seperti huruf Jiim ( ج ). Pada kepala huruf Jiim ( ج ) ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Setiap huruf selain Alif ( أ ) memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif ( أ ) sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik tidak punya bentangan. Hubungan Alif ( أ ) diantara huruf-huruf yang tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya (ulama'). Kerananya Alif ( أ ) mendahului semua huruf.

Diantara huruf-huruf yang mempunya titik di atasnya, ada pula yang mempunya titik dibawahnya,yang pertama (titik di atas) ibarat "Aku tidak melihat sesuatu (sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana".

Diantara huruf itu ada yang mempunyai titik di tengah, seperti titik putih dalam lubang huruf
Mim ( م ) dan Wawu ( و ) dan lain-lain, maka posisinya pada tahap, "Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya." Kerananya titik itu berlubang, sebab dalam lubang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri lingkaran kepada kepala Miim ( م ) menempati tahap, "Aku tidak melihat sesuatu" sementara titik putih menempati "Kecuali aku melihat Allah di dalamnya."

Alif ( أ ) menempati posisi "Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu maka sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah." Kalimat "sesungguhnya" menempati posisi erti "Tidak", dengan huraian "Sesungguhnya orang-orang berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah."

Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu baginda bersyahadat kepada bersyahadat kepada Allah dan pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Ertinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt


Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, "Tafsirul Qur'anil Karim" menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, beerti Asma Allah Ta’ala ( Nama-nama Allah) sifat yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta'ala. Sedangkan wujud Asma (nama-nama) itu sendiri
menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.

Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian "Tidak membuat penyifatan".

"Ar- Rahman" adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan kesempurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah.

dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.

"Ar-Rahiim" adalah yang melimpah bagi kesempurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Kerana itu sering. disebutkan, "Wahai Yang Maha Rahman bagi dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat".

Ertinya, adalah sifat kemanusiaan yang sempurna, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks inilah Nabi Muhammad saw. Bersabda, "Aku diberi anugerah menyeluruhi Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) kesempurnaan akhlak".

Kerana. kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai kalimat dari Allah, sedangkan kesempurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagat kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi - alaihimus salam - meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini boleh ditemui dalam pada zaman Isa as, zaman Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.

Disebutkan, bahwa wujud ini muncul dari huruf Baa’( ب ) dari Basmalah. Kerana Baa’( ب ) tersebut mengiringi huruf Alif ( أ ) yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari ciptaan Allah, yang disebutkan melalui firman-Nya, "Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan daripada dirimu, dan denganmu Aku memberi, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa". (Al-hadits).

Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.

18 huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Kerana huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif merupakan induk dari seluruh yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Kerana itu difahami sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bahagian-bahagian tersendiri.

Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan alam kemanusiaan. Walau pun masuk kategori alam haiwan, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, roh adalah alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.
Tiga Alif ( أ أ أ ) yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan perunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af 'aal ( perbuatan ). Yaitu tiga alam ketika dipisah-pisah, dan satu alam ketika dinilai dari hakikatnya.

Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi.

Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa', "dari mana hilangnya Alif itu?" Maka Rasulullah saw, menjawab, "Dicuri oleh Syaitan".

Diharuskannya memanjangkan huruf Baa'nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan boleh dikenal kecuali oleh ahlinya. Kerananya, dalam hadist disebutkan, "Manusia diciptakan menurut gambaran Nya".

Dzat sendiri tersembunyi oleh Sifat, dan Sifat tersembunyi oleh Af'aal. Af'aal tersembunyikan oleh jagat-jagat dan makhluk.

Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajallinya Af'aal Allah dengan terbukanya hijab jagat raya, maka ia akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajallinya Sifat dengan terbuka hijab Af'aal, ia akan redha dan pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya hijab Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih penyatuan mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca "Bismillahirrahmaanirrahiim".

Tauhidnya af'aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, "Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu".

Wallahu'alam

sumber ; sufinews

No comments: